Mungkin sudah terlalu lama aku bersembunyi di balik luka itu. Tak ada yang dapat melihat luka batin ku yang perih tak terobati. Kembali terlintas kisah itu di angan, semua sirna tak membekas semua hilang tak meninggalkan jejak. Bukannya aku tak mampu bangkit dari keterpurukan itu, bukannya aku tak mampu berjalan sendiri tanpa dia. Namun semua begitu cepat, dia pergi disaat aku tidak siap untuk di tinggalkannya di saat cinta itu tumbuh berkembang dalam hati.
Saat romansa cinta itu begitu indah, saat dunia ini hanya ada aku dan dia. Tidak ada yang sempurna dalam hidup ku tanpa dia penyempurna di setiap langkah ku. Harusnya musibah itu tidak pernah ada, harusnya kami tidak pernah terpisah mungkin hingga saat ini mungkin kami masih bersama. Tapi takdir berkata lain...
Awal perjalanan kisah ini begitu memilukan, mengiris hati itu pasti. Menyesakan dada, hingga sulit aku bernafas di mana setiap malam wajahnya terus menghiasi alam bawah sadar ku. Perbedaan keyakinan yang begitu kuat sempat menjadi ombak besar yang menghadang perjalanan cinta kami. Semua bisa di lewati dengan hati lapang, walau tangis selalu menjadi bagian kisah ini. Kisah ini tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup, sosok laki-laki seperti dia dengan ketulusan dan pengorbanan cintanya yang sulit aku lukiskan lewat apapun itu.
Dia adalah Paul pemuda Nasrani yang telah membuat aku jatuh cinta, benar-benar cinta yang tidak pernah aku dapat dari yang sebelumnya. Memang dari penampilan dia tidak seperti pemuda lainnya, terkesan seperti begajulan. Tapi paul memiliki hati yang seperti malaikat, saat bersamanya selalu ada tawa meski kisah kami tidak terlepas masalah perbedaan yang fatal. Keyakinan kami berbeda, keluarga ku seorang muslim. Pertentangan dari keluarga itu sudah pasti ada dan melarang keras aku untuk melanjutkan hubungan dengan Paul.
Cinta itu buta, mungkin benar karna tidak dapat melihat perbedaan. Tapi hati tidak pernah buta, aku tau seberapa besar cinta dan pengorbanan yang Paul lakukan untuk mempertahan hubungan kami. Sesakit apapun itu, tidak menghalangi langkah kami untuk sekedar bertemu di sela-sela waktu kosong di saat kedua orang tuaku lengah mengawasi ku.
Putus sambung, manis pahit semua telah kami lewati bersama. Mungkin terlalu dini aku mengatakan ini cinta sejati yang di bawa mati. Karna kisah ini terjadi saat kami masih duduk di bangku SMA.
Rumah kami satu komplek dan kami bertetanggaan tapi kami tidak satu sekolah. Berita tentang hubungan kami pun tersebar dengan cepat di kalangan ibu-ibu sekitar komplek kami tinggal. Mulai dari berita yang baik hingga berita yang berujung gosip. Dan keadaan ini menambah memperkeruh hubungan kami. Terutama kedua orang tua ku yang dari awal tidak merestui hubungan kami untuk berpacaran, kalau untuk berteman saja orang tua ku tidak pernah melarang aku berteman dengan siapa saja.
Paul itu orangnya sangat pendiam, dan orang yang baru mengenalnya mungkin akan menganggap dirinya sombong. Tapi dia adalah sosok yang sangat setia kawan dan solidaritasnya cukup tinggi. Itu terbukti karna Paul memiliki seorang sahabat bernama Danu seorang muslim, mereka bersahabat sejak kecil. Tiap bulan suci ramadhan tiba, Paul selalu menunjukan toleransinya kepada Danu yang sedang berpuasa, begitu juga saat sahur. Paul sering ikut berkeliling membangunkan warga untuk sahur.
Banyak kenangan indah yang tidak bisa aku lupakan begitu saja tentang Paul.
Tepatnya saat itu hari senin tanggal 26 Desember 2005, pagi itu aku sangat senang sekali karna Paul mengantar ku hingga ke sekolah dan pulangnya kami berjanji untuk bertemu lagi dan Paul akan menjemput ku usai pulang sekolah. Tentu semua kami rencanakan tanpa sepengetahukan kedua orang tua ku.
Kebetulan hari ini adalah class meeting, tidak ada kegiatan belajar mengajar. Kegiatan hanya di isi dengan olah raga saja, itu pun banyak teman-teman sekolah ku yang sengaja tidak datang ke sekolah atau sengaja datang ke sekolah siang hari.
Perasaan senang dan bahagia itu yang aku rasa saat ini, aku pulang lebih cepat dan segera pergi ke tempat yang telah kami janjikan untuk bertemu yaitu halte dekat sekolah ku.
Aku menunggu detik demi detik hingga menit demi menit sudah berlalu. Matahari semakin terik, panas semakin menyengat tubuh ku.
Hati ku semakin gelisah karna Paul tak kunjung datang. Apa yang terjadi gerangan hingga Paul melupakan janjinya pada ku. Pikiran ku semakin tidak karuan, hingga akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa Paul mengalami kecelakaan di tengah jalan saat akan menjemput ku usai sekolah.
Deg...detak jantung ku seakan ingin lepas dari tempatnya, aku lemah tak berdaya sekujur tubuh ku seakan mati rasa. Paul sudah berada di rumah sakit, dalam keadaan tidak sadar. Menurut saksi yang melihat kejadian saat itu Paul mengendarai motor dan menghentikannya di pinggir jalan lalu jatuh pingsan juga muntah darah. Kata dokter semua di sebabkan pembuluh darahnya pecah, dan itu terjadi karna Paul mengalami stres yang cukup tinggi, banyak masalah yang di deritanya dan di tahannya sendiri dalam pikirannya hingga Paul tidak dapat lagi untuk bertahan ini adalah puncaknya.
Tapi apa daya, takdir berkata lain .Aku sangat kecewa pada salah satu rumah sakit yang tidak mau segera menangani Paul karna dengan alasan tidak ada yang bertanggung jawab atas biaya pengobatan Paul. Hingga akhirnya Paul di larikan kembali ke salah satu rumah sakit daerah, tapi takdir berkata lain setibanya di rumah sakit tersebut Paul sudah tidak bernyawa sejak di perjalanan.
Hancur sudah semua mimpi indah itu, bukan keyakinan yang memisahkan kami tapi kematianlah yang akhirnya memisahkan kami.
Paul pergi untuk selamanya membawa cintanya untuk ku, Paul pergi selamanya meninggalkan kisah ini.
Candanya yang selalu berusaha membuat ku tertawa seolah menyiratkan semua akan baik-baik saja.
Semua sudah tidak ada lagi, di sini hanya ada aku yang berjalan sendiri tanpanya.
Aku berusaha tegar, aku berusaha tidak bersedih tapi hati ku hancur tak tersisa lagi. Semua di bawa pergi oleh Paul, hati ku cinta ku dan tak tersisa lagi. Tak ada wanita yang memiliki cinta sejati Paul, hanya aku yang beruntung dapat memiliki cinta sejati mu "Paul".
9 Tahun berlalu kisah ini, kini aku berusaha terus melangkah melanjutkan hidup ku.
Aku tau di sana Paul telah bahagia dan lebih tenang tak ada masalah dunia yang membebaninya.
Paul, raga mu boleh pergi untuk selamanya meninggalkan dunia yang fana....tapi cinta mu tidak akan pernah pergi.
Paul akan selalu ada di sini dalam hati ini dalam ingatan ku dan orang-orang yang menyayangi mu.
Kamu selalu hidup dalam memory itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar